Keutamaan 10Hari Terakhir Ramadhan
>> Saturday, August 20, 2011
Sebagian ulama kita membagi bulan ini dengan tiga fase: fase pertama sepuluh hari awal Ramadhan sebagai fase rahmat, sepuluh di tengahnya sebagai fase maghfirah dan sepuluh akhirnya sebagai fase pembebasan dari api neraka. Sebagaimana diriwayatkan oleh sahabat Salman Al Farisi:
“Adalah bulan Ramadhan, awalnya rahmat, pertengahannya maghfirah dan akhirnya pembebasan dari api neraka.”
Dari ummul mukminin, Aisyah ra., menceritakan tentang kondisi Nabi saw. ketika memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan:
“Beliau jika memasuki sepuluh hari terkahir Ramadhan, mengencangkan ikat pinggang, menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.”
Apa rahasia perhatian lebih beliau terhadap sepuluh hari terakhir Ramadhan? Paling tidak ada dua sebab utama: Sebab pertama, karena sepuluh terkahir ini merupakan penutupan bulan Ramadhan, sedangkan amal perbuatan itu tergantung pada penutupannnya atau akhirnya. Rasulullah saw. berdo’a:
“اللهم اجعل خير عمري آخره وخير عملي خواتمه وخير أيامي يوم ألقاك”
“Ya Allah, jadikan sebaik-baik umurku adalah penghujungnya. Dan jadikan sebaik-baik amalku adalah pamungkasnya. Dan jadikan sebaik-baik hari-hariku adalah hari di mana saya berjumpa dengan-Mu Kelak.”
Jadi, yang penting adalah hendaknya setiap manusia meangakhiri hidupnya atau perbuatannya dengan kebaikan. Karena boleh jadi ada orang yang jejak hidupnya melakukan sebagian kebaikan, namun ia memilih mengakhiri hidupnya dengan kejelekan.
Sepuluh akhir Ramadhan merupakan pamungkas bulan ini, sehingga hendaknya setiap manusia mengakhiri Ramadhan dengan kebaikan, yaitu dengan mencurahkan daya dan upaya untuk meningkatkan amaliyah ibadah di sepanjang sepuluh hari akhir Ramadhan ini.
Sebab kedua, karena dalam sepuluh hari terakhir Ramadhan di duga turunnya lailatul qadar, karena lailatul qadar bisa juga turun pada bulan Ramadhan secara keseluruhan, sesuai dengan firman Allah swt.
إنا أنزلناه في ليلة القدر
“Sesungguhnya Kami telah turunkan Al Qur’an pada malam kemulyaan.”
Allah swt. juga berfirman:
شهر رمضان الذي أنزل فيه القرآن هدى للناس وبينات من الهدى والفرقان
“Bulan Ramadhan,adalah bulan diturunkan di dalamnya Al Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan dari petunjuk dan pembeda -antara yang hak dan yang batil-.”
Dalam hadits disebutkan: “Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan di dalamnya ada lailatul qadar, malam lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa diharamkan darinya maka ia diharamkan mendapatkan kebaikan seluruhnya. Dan tidak diharamkan kebaikannya kecuali ia benar-benar terhalang -mahrum-.” Al qur’an dan hadits sahih menunjukkan bahwa lailatul qadar itu turun di bulan Ramadhan. Dan boleh jadi di sepanjang bulan Ramadhan semua, lebih lagi di sepuluh terakhir Ramadhan. Sebagaimana sabda Nabi saw.:
“التمسوها في العشر الأواخر من رمضان“.
“Carilah lailatul qadar di sepuluh terakhir Ramadhan.”
Pertanyaan berikutnya, apakah lailatul qadar di seluruh sepuluh akhir Ramadhan atau di bilangan ganjilnya saja? Banyak hadits yang menerangkan lailatul qadar berada di sepuluh hari terakhir. Dan juga banyak hadits yang menerangkan lailatul qadar ada di bilangan ganjil akhir Ramadhan. Rasulullah saw. bersabda:
“التمسوها في العشر الأواخر وفي الأوتار”
“Carilah lailatul qadar di sepuluh hari terakhir dan di bilangan ganjil.”
“إن الله وتر يحب الوتر”
“Sesungguhnya Allah ganjil, menyukai bilangan ganjil.”
Oleh karena itu, kita rebut lailatul qadar di sepuluh hari terakhir Ramadhan, baik di bilangan ganjilnya atau di bilangan genapnya. Karena tidak ada konsensus atau ijma’ tentang kapan turunya lailatul qadar.
Di kalangan umat muslim masyhur bahwa lailatul qadar itu turun pada tanggal 27 Ramadhan, sebagaimana pendapat Ibnu Abbas, Ubai bin Ka’ab dan Ibnu Umar radhiyallahu anhum. Akan tetapi sekali lagi tidak ada konsensus pastinya. Sehingga imam Ibnu Hajar dalam kitab “Fathul Bari” menyebutkan, “Paling tidak ada 39 pendapat berbeda tentang kapan lailatul qadar.”
Ada yang berpendapat ia turun di malam dua puluh satu, ada yang berpendapat malam dua puluh tiga, dua puluh lima, bahkan ada yang berpendapat tidak tertentu. Ada yang berpendapat lailatul qadar pindah-pindah atau ganti-ganti, pendapat lain lailatul qadar ada di sepanjang tahun. Dan pendapat lainnya yang berbeda-beda.
Untuk lebih hati-hati dan antisipasi, hendaknya setiap manusia menghidupkan sepuluh hari akhir Ramadhan. Apa yang disunnahkan untuk dikerjakan pada sepuluh hari akhir Ramadhan?
Adalah qiyamullail, sebelumnya didahului dengan shalat tarawih dengan khusyu’. Qira’atul qur’an, dzikir kepada Allah, seperti tasbih, tahlil, tahmid dan takbir, istighfar, do’a, shalawat atas nabi dan melaksanakan kebaikan-kebaikan yang lainnya.
Lebih khusus memperbanyak do’a yang ma’tsur:
وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ : قُلْت : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَرَأَيْت إنْ عَلِمْت أَيُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ ، مَا أَقُولُ فِيهَا ؟ قَالَ : قُولِي : اللَّهُمَّ إنَّك عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Seperti yang diriwayatkan oleh Aisyah, bahwa beliau berkata: “Saya berkata: Wahai Rasul, apa pendapatmu jika aku mengetahui bahwa malam ini adalah lailatul qadar, apa yang harus aku kerjakan? Nabi bersabda: “Ucapkanlah: “Allahumma innaka afuwwun tuhibbul afwa fa’fu ‘anni.” (Ya Allah, Engkau Dzat Pengampun, Engkau mencintai orang yang meminta maaf, maka ampunilah saya.” (Ahmad dan disahihkan oleh Al-Albani)
Patut kita renungkan, wahai saudaraku muslim-muslimah: “Laa takuunuu Ramadhaniyyan, walaakin kuunuu Rabbaniyyan. Janganlah kita menjadi hamba Ramadhan, tapi jadilah hamba Tuhan.” Karena ada sebagian manusia yang menyibukkan diri di bulan Ramadhan dengan keta’atan dan qiraatul Qur’an, kemudian ia meninggalkan itu semua bersamaan berlalunya Ramadhan.
Kami katakan kepadanya: “Barangsiapa menyembah Ramadhan, maka Ramadhan telah mati. Namun barangsiapa yang menyembah Allah, maka Allah tetap hidup dan tidak akan pernah mati.”
Allah cinta agar manusia ta’at sepanjang zaman, sebagaimana Allah murka terhadap orang yang bermaksiat di sepanjang waktu.
Dan karena kita ingin mengambil bekalan sebanyak mungkin di satu bulan ini, untuk mengarungi sebelas bulan selainnya.
Semoga Allah swt. menerima amal kebaikan kita. Amin
تقبل الله منا ومنكم صالح الأعمال
dakwatuna.com
ASRAMA PUTERI MADRASAH DALAM PERANCANGAN
>> Tuesday, July 5, 2011
Alhamdulillah, bangunan Madrasah Al-Qur'an di Kampung Baru Bintulu sekarang telah siap sepenuhnya. Pihak Madrasah sedang dalam mengemaskini segala pentadbiran dan kelengkapan bilik kelas, asrama dan sebagainya. Sumbangan dari masyarakat Islam semuanya sangatlah di alu-alukan untuk sama-sama menabur pahala dan saham Akhirat.
KEM CUTI SEKOLAH 2010
>> Monday, November 29, 2010

HIKMAH Bintulu akan mengadakan kem pada 30/11/2010 hingga 5/12/2010 bertempat di Masjid Assyakirin Bintulu
Bangunan Madrasah Dah Siap ...... Bangunan Asrama Puteri Dalam Perancangan
>> Monday, November 1, 2010
Alhamdulillah, pihak Madrasah Al-Quran Bintulu mengucapkan Jazakumullahu Khairan Katsiran atas sumbangan dan sokongan dari anda semua sehingga berdirinya Bangunan Madrasah yang baru. Semoga Amal dan Usaha anda semua diterima di sisi Allah S.W.T.
Gambaran Bangunan Asrama Puteri
Kini Pihak Madrasah sedang dalam proses untuk mendirikan Bangunan Asrama Puteri di Kampung Baru Lorong 1 juga. Di atas permintaan dan harapan masyarakat khasnya masyarakat Bintulu dan Sarawak umumnya, Pihak Madrasah sedang berusaha untuk mendirikan asrama tersebut. Oleh yang demikian, pihak Madrasah sekali lagi untuk berkongsi amal bagi mendirikan Bangunan Asrama Puteri. Sama-samalah kita sebarkan cita-cita murni ini kepada sahabat handal dan kerabat terdekat.
Allahu Akbar .....
Rombongan Lawatan Dari Limbang
>> Monday, October 4, 2010
Alhamdulillah seramai 9 orang rombongan dari Badan Khairat Limbang telah berkunjung ke Madrasah Al-Qur'an untuk berkongsi pengalaman dan bertukar-tukar pandangan.

Adab-adab Hari Raya
>> Wednesday, September 8, 2010
Dihari kemenangan dan kegembiraan ini marilah kita saling berkenalan, bermaafan dan istiqamah dalam perjuangan.
Sempena Aidil Fitri ini marilah kita melihat kembali beberapa petunjuk Seerah mengenainya. Setelah Nabi saw berhijrah ke Madinah, Baginda saw mendapati penduduknya menjadikan 2 hari tertentu sebagai hari kebesaran, lalu bertanya, “Hari apa ini?”. Mereka menjawab, “Kami bergembira di dalamnya sejak zaman Jahiliyah lagi”. Lalu Nabi saw bersabda,
“Rasulullah saw mengarahkan kami (para wanita) agar mengajak keluar (bersama ke tempat solat Raya) para wanita yang haid agar menyaksikan kebaikan (pada hari tersebut) dan doa orang-orang Islam” … “wanita yang haid berada di tempat yang berasingan dari tempat solat” (riwayat Abu Daud).
Ada wanita yang mengadu tidak memiliki pakaian yang sempurna, lalu Ummu Atiyah meminta dikalangan adik beradiknya agar membantu meminjamkan pakaian. Semua wanita diminta keluar tanpa alasan. Oleh itu membancuh sirap, memasang langsir, menyusun juadah dsb di pagi Raya janganlah sehingga seseorang wanita itu tidak ke tempat solat Hari Raya dan menikmati kelebihan-kelebihannya.
Solat Hari Raya Rasulullah saw dan para Sahabat ra adalah merupakan perhimpunan agung tahunan yang mengumpulkan semua penduduk termasuk semua wanita dan kanak-kanak tanpa kecuali. Ia hari kegembiraan bersama. Wanita haid juga diminta ke tempat perhimpunan. Jika saiz masjid terhad, maka dibuat di padang yang lapang, seperti di zaman Nabi saw. Dengan ini kesemua mereka dapat menyaksikan kebesaran Dakwah ini dan kebaikan untuk penganutnya. Doa diaminkan bersama oleh semua.
Abu Hurairah ra ada meriwayatkan bahawa pernah berlaku hujan, maka Nabi saw dan para Sahabat ra bersolat Raya di dalam masjid (riwayat Abu Daud).
Malam Raya dan siangnya dihiasi dengan Takbir seperti athar yang berbunyi,
“Hiasilah Hari Raya kamu dengan Takbir (Allahu Akbar)”
…dalam lafaz yang lain
“dengan Takbir, Tasbih (subhanallah) dan Tahmid (alhamdulillah)“.
Disunatkan menghidupkan malam Aidil Fitri dengan ibadah-ibdah khusus seperti solat, zikir, tilawah dsb.
Bermaafan di pagi Raya, terutama kepada ibu bapa adalah salah satu adat Melayu yang terbaik dan menonjol berbanding dengan umat Islam yang lain. Islam mengambil apa yang terbaik dari satu umat untuk dicontohi oleh umat yang lain.
Dipagi hari Raya Aidil Fitri, sunat menjamah makanan sebelum ke tempat solat Raya Aidil Fitri, manakala sunat menjamah makanan selepas solat Raya Aidil Adha. Nabi saw bersolat Raya tanpa azan, qamat, sunnah qabliah maupun sunnah bakdiah. Baginda saw bertakbir sebanyak 7 kali di rakaat pertama dan 5 kali di rakaat kedua dalam solat Aidil Fitri. Abu Waqid Al-Laithy ra berkata,Oleh kerana ia suatu perhimpunan tahunan terbesar, suara Nabi saw terhad, maka selepas berkhutbah Nabi saw mengajak Bilal bin Rabah pergi ketempat kaum Muslimat dan memberikan kata-kata nasihat kepada mereka pula. Diakhirnya Nabi saw mengajak kaum wanita bersedekah sempena Hari Raya, lalu mereka berlumba-lumba bersedekah dengan wang dan perhiasan yang dipakai dengan diletakkan di kain yang dihampar oleh Bilal. Kemudian sedeqah tersebut dibahagikan kepada faqir miskin di situ. Alangkah gembiranya mereka dapat bersedeqah di hadapan Rasulullah di hari Raya. Alangkah gembiranya faqir miskin di situ yang menerimanya untuk dibawa pulang seperti kanak-kanak Malaysia mendapat Duit Raya.
Alangkah gembiranya berhari raya bersama ibu tercinta. Kenangan sejak kecil hingga dewasa yang takkan dilupa. Terima kasih ibu. Jasamu membesar, menyayangi dan mendidik anak-anak tidak mungkin dapat dibayar dengan wang ringgit mereka.
“Ya Allah, ampuni kami dan kedua orang tua kami. Rahmatilah mereka sepertimana mereka membesarkan kami sejak kami kecil” (Al-Quran).
Fenomena positif Hari Raya di Malaysia diantaranya ialah ziarah menziarahi dan maaf bermaafan sesama sanak saudara dan masyarakat. Anak-anak pulang kekampung menziarahi ibu bapa dan saudara mara mengeratkan lagi Silaturahim. Menziarahi tanah perkuburan, asalkan dengan cara yang makthur (adab yag ditunjukkan oleh Rasulullah saw) mengingatkan kita kefanaan dunia dan kepalsuan godaannya. Menghiasi rumah dengan sederhana, membuat rumah terbuka, mencari dan menghubungi waris, sahabat handai dan teman lama dan apa sahaja yang boleh mengeratkan Ukhuwwah Islamiah (kasih sayang sesama Islam) ketika dan menjelang Hari Raya adalah sangat dialukan. Bagi pelajar dan mereka yang berada di luar negara, menziarahi dan berkenalan dengan saudara seIslam dari bangsa-bangsa yang lain seperti Arab, Indo-Paki, Bosnia dsb merupakan salah satu hikmah Hari Raya yang utama.
Maksud hadis diatas, “Adalah para Sahabat Nabi saw apabila mereka bertemu sesama mereka di Hari Raya, mereka akan mengucapkan sesama mereka “Taqabbalallahu minna wa minka” (Moga Allah menerima (ibadat yang dikerjakan) dari kami dan dari anda)” (hadis yang sahih sanad-sanadnya pada Imam Al-Bany).
Fenomena negatif di Malaysia yang boleh diperbaiki lagi termasuk sebahagian rancangan tv, samada nyanyian artis, tarian atau drama oleh mereka yang mendedahkan aurat, bergaul bebas apatah lagi ditontoni ramai, pembaziran dalam membuat persiapan terlalu berlebihan dalam membakar bunga api, membeli pakaian, perhiasan dsb dengan mencurahkan wang bukan kepada umat Islam. Syawal datang selepas Ramadan. Matlamat Ramadan adalah taqwa (surah Al-Baqarah). Adapun melabuhkan tirai Ramadan dengan Syawal bersama-sama bentuk-bentuk yang bertentangan dengan taqwa, jelas mensia-siakan hikmah puasa, tarawih dan tilawah sepanjang Ramadan. Nabi saw bersabda bermaksud,
“Jibril datang kepada aku dan berkata (berdoa), jauhlah (dari rahmat Allah) orang yang sempat beramal di bulan Ramadan, tetapi dosanya tidak diampunkan. Aku (Nabi saw) berkata Ameen (perkenankanlah)” (Hadis).
Semoga Allah swt menanam ketaqwaan dan kegembiraan kepada kita dan umat Islam sempena Aidil Fitri ini dan menunjukkan jalan PetunjukNya. Dia Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Selamat Hari Raya, Maaf Zahir Batin
Read more...















